Purwakarta, sanggabuanamultimedia.web.id - Penjualan solar bersubsidi di wilayah Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta menjadi sorotan. Sejumlah perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut diduga membeli solar bersubsidi dalam jumlah besar pada beberapa SPBU, padahal BBM jenis tersebut seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kecil dan sektor yang berhak sesuai aturan.
Berdasarkan aturan Pertamina dan BPH Migas, solar bersubsidi jenis Biosolar adalah BBM yang penyalurannya ditujukan untuk nelayan, petani, UMKM, transportasi, dan masyarakat umum yang terdaftar. Sementara untuk kegiatan industri dan pertambangan seharusnya menggunakan solar industri atau solar non-subsidi.
Menanggapi banyaknya kendaraan tambang milik perusahaan yang mengantre membeli solar bersubsidi pada beberapa SPBU yang ada di Kecamatan Sukatani, Ketua Bidang Investigasi dan Pengawasan Pembangunan Lembaga Swadaya Masyarakat-Gabungan Elemen Masyarakat Purwakarta Bersatu (LSM-Gempur), Wawan Setiawan, menegaskan, kalau perusahaan besar ikut beli solar subsidi, jelas pendistribusian solar subsidi ini tidak tepat sasaran.
"Kalau perusahaan besar ikut beli solar subsidi, ya jelas tidak tepat sasaran," ujar Wawan ketika ditemui di halaman Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Purwakarta, Selasa (11/7/2026).
Wawan berharap aparat terkait segera melakukan audit dan pengetatan pengawasan agar penyaluran solar bersubsidi benar-benar tepat sasaran.
"Kami minta Pemkab dan aparat mengecek. Jangan sampai subsidi negara yang untuk rakyat kecil malah dinikmati perusahaan besar," katanya menyesalkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan tambang yang beroperasi di Sukatani terkait dugaan pembelian solar bersubsidi tersebut.
Sementara itu, pihak SPBU di wilayah Sukatani mengaku selalu mengikuti prosedur penyaluran sesuai QR Code MyPertamina. "Kami hanya menyalurkan sesuai data yang masuk sistem. Kalau ada kendaraan perusahaan yang terdaftar dan lolos verifikasi, maka bisa isi," kata petugas SPBU.
Hingga saat ini tim media masih berupaya mengonfirmasi langsung kepada pihak perusahaan tambang, Pertamina, dan BPH Migas terkait dugaan tersebut. (Nana Cakra)
