Manager KUD Mina Langgeng Jaya Langensari, Ato Suanto, mengatakan sedikitnya 270 hektare tambak milik petambak terdampak banjir. Kondisi ini tidak hanya dipicu oleh curah hujan tinggi, tetapi juga akibat penyempitan dan pendangkalan saluran air di kawasan tambak.
“Selain hujan deras, sejumlah saluran mengalami sedimentasi sehingga air tersendat dan tidak bisa mengalir ke laut. Akibatnya air masuk dan merendam area tambak,” ujar Ato.
Ato menambahkan, banjir yang merendam tambak berdampak signifikan terhadap pasokan ikan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pasokan ikan dari petambak mengalami penurunan hingga 60 persen.
“Kalau cuaca normal, pasokan ikan bisa mencapai 3 kuintal per hari. Sekarang hanya sekitar 1 kuintal. Petambak kesulitan panen karena tambak terendam, bahkan akses jalan menuju tambak nyaris terputus,” jelasnya.
Sementara itu, Rastim Egot, salah seorang petambak Desa Langensari, mengungkapkan bahwa tambak-tambak yang terendam banjir umumnya berisi ikan bandeng dan ikan nila. Namun akibat banjir, banyak petambak mengalami gagal panen.
“Kerugian diperkirakan mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per hektare. Ikan bandeng dan nila tidak bisa diselamatkan karena terbawa arus banjir,” ucap Rastim.
Saat ini, para petambak hanya bisa pasrah menghadapi kondisi tersebut. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Subang segera melakukan normalisasi saluran air yang mengalami pendangkalan dan penyempitan, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Normalisasi saluran dinilai menjadi langkah mendesak guna melindungi keberlangsungan usaha tambak sekaligus menjaga stabilitas pasokan ikan di wilayah Pantura Subang. (Agus Hidayat)

