Sebagian yang lain mungkin akan menjabarkan ratusan, puluhan, dan satuannya terlebih dahulu. Kemudian menjumlahkan tiap ratusan, puluhan, dan satuannya. Dan terakhir menjumlahkan hasilnya. Sebagai contoh, pada kasus . Bilangan bisa dijabarkan sebagai , sementara bisa dijabarkan sebagai . Sehingga dapat diselesaikan dengan .
Ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan sederhana tersebut. Bilangan dapat dipandang sebagai , sementara bilangan 133 dapat dipandang sebagai . Sehingga dapat diselesaikan dengan .
Mungkin saat ini Anda menggunakan cara lain untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Lantas, jika langkah yang Anda ambil berbeda dengan yang saya jabarkan, ini berarti Anda salah? Belum tentu! Karena pada dasarnya terdapat banyak cara untuk menyelesaikannya. Selama Anda menggunakan prinsip matematis yang tepat, langkah yang Anda lakukan bisa saja benar. Bahkan, Anda mungkin menambah khasanah baru dalam matematika karena menemukan cara baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk menyelesaikan soal penjumlahan sederhana tersebut.
Jika untuk menyelesaikan permsalahan penjumlahan sederhana saja, yang merupakan hal dasar dalam Matematika, terdapat banyak variasi cara yang dapat digunakan, apalagi dalam menyelesaikan masalah matematis yang lebih kompleks. Dalam geometri ruang, misalnya, di mana seseorang bebas mengontruksikan representasi visualnya selama masih sesuai dengan konteks yang diberikan. Atau dalam SPLDV, di mana seseorang bisa memilih untuk menggunakan substitusi, eliminasi, matrik, atau cara lain untuk mencari nilai variable dalam sistem persamaan tersebut.
Seseorang bebas memilih caranya (yang ia anggap efektif) dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Begitu pula dalam pembelajaran, pada dasarnya siswa bebas memilih caranya sendiri selama masih dalam kaidah ilmu pengetahuan yang sesuai. Hal inilah yang bisa disebut sebagai demokrasi dalam pendidikan, atau dalam konteks ini adalah pendidikan matematika.
Menurut KBBI, demokrasi juga dapat didefinisikan sebagai gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Atau jika berbicara dalam konteks KBM, maka hak dan kewajiban tersebut dimiliki bagi semua siswa. John Dewey (1916) mengungkapkan bahwa “Democracy is more than a form of government; it is a mode of associated living, of conjoint communicated experience.” Artinya, demokrasi bukan sekadar sistem politik, tetapi juga cara hidup bersama yang melibatkan kebebasan berkomunikasi dan saling menghargai. Dalam konteks pendidikan, hal ini dapat diartikan sebagai siswa yang bebas mengekspresikan cara berpikirnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Gutmann (1987) yang menjelaskan demokrasi pendidikan sebagai, “Democratic education enables students to deliberate freely and critically about knowledge claims.”
Pada dasarnya, demokrasi dalam pembelajaran memberikan ruang bagi siswa untuk menilai klaim pengetahuan, mengemukakan argumen, bersikap skeptis terhadap pengetahuan yang diberikan, serta membandingkan solusi. Demokrasi memberikan ruang bagi siswa untuk mengemukakan pendapatnya jika ia tidak setuju terhadap suatu pengetahuan, meskipun pengetahuan tersebut disampaikan oleh gurunya. Siswa dapat menggunakan metode yang berbeda dengan gurunya dalam menyelesaikan suatu permasalahan, bahkan mempertanyakan metode yang diberikan oleh gurunya. Ia bebas memilih solusi yang menurutnya paling efektif dan masuk akal, sepanjang sesuai dengan kaidah pengetahuan yang tepat.
Untuk mewujudkan demokrasi pembelajaran tersebut di kelas, tentu penting bagi guru untuk memperluas pengetahuannya. Guru juga perlu memahami bahwa untuk mencapai suatu tujuan atau soluasi, ada banyak alternatif cara yang bisa digunakan. Sebab peran guru di sini hanyalah sebagai pengarah, bukan penentu langkah. Guru hanya memastikan siswanya tidak memilih jalan yang salah, bukan menentukan satu-satunya jalur yang bisa mereka ambil. Oleh sebab itu, penting bagi guru untuk mengetahui jalur-jalur lain yang dapat diambil oleh siswa ketika menghadapi suatu masalah.
Penulis:
Fatin Nasywa Kirana
S2 Pendidikan Matematika
Universitas Pendidikan Indonesia
