Karawang,sanggabuanamultimedia.web.id — Setiap kontestasi selalu menyisakan dua sisi mata uang yang kontras.
Di satu sisi, riuh rendah euforia kemenangan dirayakan dengan penuh emosional dan air mata kebahagiaan.
Sebuah ujung dari perjuangan panjang yang menguras tenaga, pikiran, hingga materi.
Namun di sisi lain, ada cerita senyap yang tertinggal, rasa tidak percaya, kekecewaan, dan luka emosional yang menyelimuti mereka yang berada di pihak yang kalah.
Fenomena sosial pasca-kontestasi inilah yang memantik keprihatinan mendalam bagi Asep Sugiri, seorang warga Plawad.
Menurutnya, atmosfer pembelahan yang terjadi di tengah masyarakat pasca-pemilihan sudah sepatutnya dihentikan agar tidak mencederai tatanan sosial yang lebih besar.
Asep menilai, dinamika yang terjadi saat ini kerap melenceng dari cita-cita dan tujuan awal sebuah retorika kepemimpinan.
Ia memandang bahwa membangun daerah atau bangsa sejatinya bukanlah sebuah kompetisi mutlak tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
"Jika semua ini dibiarkan terus berlarut-larut, pertanyaannya kapan Sila ke-3 (Persatuan Indonesia) akan terwujud? Lalu kapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan tercapai, jika kesejahteraan hanyalah narasi yang dibangun menjadi sebuah narasi sesaat saja?" ujar Asep dengan nada reflektif.
Ia mengkhawatirkan, jika ego kelompok dan tensi politik pasca-kontestasi terus dipelihara, persatuan di tingkat akar rumput terancam rapuh.
Lebih lanjut, Asep mengingatkan semua pihak baik elite politik maupun simpatisa, untuk segera menyudahi polarisasi yang tidak produktif ini.
Ia menegaskan pentingnya menjaga integritas persatuan agar tidak sekadar menjadi komoditas.
"Hentikan semuanya jika tidak ingin persatuan hanya tinggal cerita usang yang diperjualbelikan di balik meja," tegasnya.
Sebagai solusi atas ketegangan sosial ini, ia mengajak masyarakat dan para pemimpin untuk merajut kembali tali silaturahmi dan pulang kepada akar budaya luhur bangsa.
Menurutnya, momentum pasca-kontestasi adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali roh demokrasi Indonesia yang sesungguhnya.
"Kembalilah ke hakikat falsafah musyawarah dan mufakat," pungkas Asep.
Pernyataan dari warga Plawad ini seolah menjadi pengingat bagi semua elemen masyarakat, bahwa di atas kemenangan politik yang fana, ada persatuan warga yang jauh lebih berharga untuk dirawat bersama. (Yopie Iskandar)
