Talk show “Dari Keraton untuk Sumedang" menjadi langkah awal implementasi kerja sama yang mempertemukan pendidikan vokasi, dunia usaha, dan Keratin Sumedang Larang dalam satu ruang kolaborasi.Sumedang, sanggabuanamultimedia.web.id — Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga budaya diwujudkan melalui penyelenggaraan talk show bertema “Dari Keraton untuk Sumedang: Budaya, Kreativitas, dan Kebangkitan UMKM” di Gedung Srimanganti, Keraton Sumedang Larang. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian acara pendukung Pasanggiri Duta Keraton Sumedang Larang sekaligus momentum awal implementasi kerja sama kelembagaan.
Kegiatan yang diselenggarakan pada Minggu, 4 Oktober 2026 tersebut melibatkan Direktorat Vokasi Universitas Sangga Buana (USB), CV Laksana Sabda Tajimalela (LST), dan Keraton Sumedang Larang (KSL). Direktorat Vokasi USB menaungi tiga program studi, yaitu D3 Teknik Informatika, D3 Akuntansi, serta D3 Keuangan dan Perbankan.
Suasana rangkaian kegiatan di Gedung Srimanganti, Keraton Sumedang Larang. Kegiatan menjadi ruang pertemuan unsur keraton, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. (Dokumentasi kegiatan).
Kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan berhasil menghadirkan substansi penting, yaitu mewujudkan kerja sama yang sebelumnya berada pada tataran kesepakatan menjadi program nyata. Bagi para pihak, capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi penyelenggaraan berbagai kegiatan kolaboratif berikutnya.
Sinergi tersebut mempertemukan tiga kekuatan yang berbeda namun saling melengkapi. Perguruan tinggi hadir dengan sumber daya akademik, pengetahuan, teknologi, dan kapasitas pendampingan; LST berperan dalam jejaring, inisiatif, dan penggerakan program; sedangkan Keraton Sumedang Larang menjadi pusat nilai, sejarah, dan budaya Sunda yang memiliki kedekatan simbolik dengan masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan persembahan Tari Topeng oleh sendratari di bawah binaan Ni Raden Hajah Fetty Sumawilaga. Tarian pembuka tersebut menjadi bagian dari penghormatan dan persembahan kepada Sri Radya Keraton Sumedang Larang, Raden Haji Lukman Sumadisuria, sekaligus menegaskan bahwa seni tradisi tetap menjadi unsur utama dalam setiap upaya menghidupkan ruang budaya Keraton.
Pada kesempatan yang sama dilaksanakan pula pemberian silsilah Rundayan Trah Pangeran Sumedang kepada Prof. Dr. Ade Priangani, M.Si. dan Dr. Dede Jajang Suyaman, S.E., M.M. Momentum ini memperkaya rangkaian acara karena menghadirkan dimensi sejarah dan kekerabatan yang menjadi bagian penting dari tradisi Keraton Sumedang Larang.
Salah satu momen apresiasi dalam rangkaian kegiatan di Gedung Srimanganti. Kolaborasi diarahkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi berkembang menjadi program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (Dokumentasi kegiatan).
Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Raden Luky Djohari Sumawilaga, menyambut kegiatan tersebut dengan antusias. Kehadiran forum dialog dinilai sejalan dengan upaya memperluas peran Keraton agar tidak hanya dipandang sebagai ruang pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai pusat budaya yang mampu merespons kebutuhan masyarakat masa kini.
Sesi utama mengangkat tema “Dari Keraton untuk Sumedang: Budaya, Kreativitas, dan Kebangkitan UMKM”. Dua narasumber dari Direktorat Vokasi USB, Bambang Rustandi, S.E., M.Si., Ketua Program Studi D3 Akuntansi, dan Lucy Nurfadilah, S.E., M.M., Ketua Program Studi D3 Keuangan dan Perbankan, membahas peluang penguatan UMKM melalui pendekatan yang berpijak pada budaya, kreativitas, dan potensi lokal.
Diskusi dipandu oleh Muhamad Nurdin Abdul Muhaemin, S.Kom., M.Kom., dosen D3 Teknik Informatika Universitas Sangga Buana yang juga aktif sebagai pemuda penggiat Sumedang. Perpaduan perspektif akuntansi, keuangan, dan teknologi informasi membuat pembahasan tidak berhenti pada promosi produk, tetapi menyentuh aspek pengelolaan usaha, literasi keuangan, pencatatan, digitalisasi, dan penguatan identitas lokal.
Sesi talk show “Dari Keraton untuk Sumedang: Budaya, Kreativitas, dan Kebangkitan UMKM” menghadirkan dialog mengenai potensi budaya sebagai penggerak kreativitas dan ekonomi lokal. (Dokumentasi kegiatan).
Talk show berhasil mengangkat gagasan bahwa budaya tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu. Kekayaan sejarah, simbol, seni, kuliner, kerajinan, cerita, dan identitas Sumedang dapat dikembangkan menjadi sumber kreativitas dan nilai tambah ekonomi. Ketika dikelola secara tepat, unsur budaya dapat menjadi pembeda produk sekaligus memperkuat daya tarik UMKM lokal.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang luas. Pendampingan manajemen usaha, penguatan pembukuan dan pencatatan keuangan, pemanfaatan teknologi informasi, digitalisasi pemasaran, peningkatan kualitas produk, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia dapat menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang terhubung langsung dengan kebutuhan pelaku UMKM.
Keraton Sumedang Larang pada saat yang sama dapat memainkan peran sebagai sumber identitas dan nilai. Kolaborasi dengan dunia akademik dan dunia usaha memungkinkan warisan budaya tidak hanya dipelihara, tetapi juga ditransformasikan menjadi inspirasi bagi kegiatan ekonomi kreatif tanpa kehilangan akar sejarah dan maknanya.
Bagi Direktorat Vokasi Universitas Sangga Buana, kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi kerja sama institusi dan wahana Pengabdian kepada Masyarakat. Kompetensi tiga program studi dapat dipadukan untuk menjawab persoalan riil di masyarakat: D3 Teknik Informatika pada aspek digitalisasi dan teknologi, D3 Akuntansi pada tata kelola pencatatan dan pelaporan usaha, serta D3 Keuangan dan Perbankan pada literasi dan pengelolaan keuangan.
Bagi Laksana Sabda Tajimalela, penyelenggaraan kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun ruang kolaborasi yang memperkuat kiprah Keraton Sumedang Larang dalam kehidupan sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi masyarakat. Sementara bagi Keraton, kolaborasi semacam ini membuka peluang agar nilai-nilai budaya dapat hadir lebih dekat dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Untuk memperluas dampak kegiatan, strategi publikasi, segmentasi sasaran, waktu penyelenggaraan, jejaring komunitas, dan pola promosi akan terus dikembangkan pada kegiatan berikutnya. Kegiatan perdana ini menjadi titik awal bagi kerja sama yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan semakin luas manfaatnya bagi masyarakat.
Ke depan, kolaborasi diharapkan berkembang dalam bentuk pendampingan UMKM, digitalisasi usaha, edukasi literasi keuangan, penguatan tata kelola, kegiatan budaya, promosi ekonomi kreatif, serta program lain yang memberi dampak langsung bagi masyarakat Sumedang.
“Dari Keraton untuk Sumedang, budaya bukan hanya untuk diwariskan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi, kreativitas, dan kekuatan untuk membangun masa depan.”
Melalui kerja sama yang menghubungkan budaya, akademisi, dunia usaha, teknologi, dan masyarakat, Keraton Sumedang Larang diharapkan semakin dirasakan kehadiran dan manfaatnya, bukan hanya sebagai penjaga jejak sejarah, tetapi juga sebagai ruang yang ikut mendorong kemajuan Sumedang dan masyarakat Indonesia.(red).